Catatan Harian Anak Sekolahan

Catatan Harian Anak Sekolahan

Archive for Januari 2015

Kepala tak berambut

Seakan hina kata-kata itu. Seakan hina bentuknya itu. Ada yang aneh dengan botak? Meski aku juga merasa hina dengan ini. Tapi kurasa botak itu unik. Botak itu antik. Hei ! jangan tertawa teman. Hanya orang tak berambut saja yang bisa merasakan semilir angin sepoi-sepoi berjalan di antara sela-sela rambut halusnya. Kau tak percaya ? kau boleh tanya para biksu di kuil sana. Botak itu menampakkan sifat asli seseorang. Merupakan salah satu cara untuk melatih rasa percaya diri seseorang. Hal ini berlaku bukan hanya untuk kaum Adam, tapi juga kaum Hawa.
Tapi aku larut dalam jurang kesedihan. Karena botak. Aku hilang kepercayaan. Karena botak. Seseorang menghindar dariku. Seakan tak mengakui lagi, siapa aku. Karena botak, harga diri dan martabatku turun.
Tenang saja botak. Disini aku bukan melampiaskan amarahku. Aku hanya ingin berterima kasih. Karenamu, aku tahu banyak hal. Jangan melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Akupun jadi sering menundukkan pandangan. Juga karenamu, sekarang aku jarang terlambat masuk kelas, karena tidak perlu memakan waktu lama untuk menata rambut.
Disini aku juga ingin berpamitan. Tolong ucapkan terimakasih, kepada orang yang memotong rambutku. Aku tak akan melupakan semua ini.  Semua pelajaran yang telah kau berikan untukku.

Ketika rambut sudah mulai tumbuh.

Tisu basah



Tolong jangan basahi aku. Aku akan terkena flu. Tolong jangan basahi aku. Aku bisa sakit seminggu. Jangan sentuh aku. Karena aku sedang sakit. Jangan pakai aku. Nanti kau tertular penyakitku.
Hai ! bangun tisu basah. Engkau terlelap dalam tidur panjangmu. Jangan banyak mengeluh. Coba tanyakan rerumputan di taman kota. Yang terbasahi oleh banyaknya air hujan. Jangan mengeluh tisu basah. Coba tanyakan gagang pintu. Ia dipegang bahkan di bulakbalik setiap hari. Sekali lagi. Jangan mengeluh tisu basah. Bisa kau tanya sandal, yang seiap hari dipakai, bahkan diinjak-injak.
Engkau tak menyakitkan. Engkau bermanfaat. Jangan mengeluh teman. Masih banyak rintangan dan cobaan di depan. Coba lihat apa yang ada di bawahmu. Agar kamu bisa lebih besyukur. Jangan coba lihat keatas bila itu membuatmu merasa rendah. Engkau adalah engkau.
                                          Lagi bingung

Cinta persegi

Persegi. Empat garis lurus dengan lubang ditengahnya. Aku tahu. Bahwa garis kanan dan kiri saling mencinta. Hanya saja, dipisahkan dengan garis atas bawah. Aku rela jika harus berpisah dari kotak. Bila itu memang membuatku harus menjadi sebuah garis. Sendiri. Menatap segitiga yang kini terpisah dariku.
Begitu juga cinta . Aku mencintainya. Hanya saja, waktu dan keadaan memisahkan perasaanku kepadanya.  Aku rela bila harus memisahkan diriku sejenak. Menatap tajamnya segitiga yang menusuk kalbuku. Menunggu hingga ujungnya tumpul. Tapi lingkaran memberitahuku. Jangan salahkan atas bawah. Karena jika angin memutarkannya, engkau yang akan berada di zona atas bawah. Engkau mau disalahkan?
Biarkan tuhan membawamu kedalam cinta abadi. Biarkan-Ia menuliskan skenario cintamu.Cinta yang tulus dan tak bertepi. Biarkan tuhan mengatur waktu dan keadaan.  Dan biarkan ada lubang ditengah kotak. Karena tuhan tahu bagaimana cara berbagi kasihmu.

   Menanti hujan reda.

Muda

Aku sempat bertanya pada cermin tanpa kaca. Tentang diriku yang masih muda. Namun ia bisu. Akhirnya, kubertanya pada jendela tak bernyawa. Seakan menolak dan berkata “jangan tanya aku”. Aku tak yakin akan bertanya pada nenek renta di seberang jalan sana. “Aku tak pernah muda” itu jawabnya. Lalu kubergumam dalam hati. Muda?.Jawaban kamus tebal Bahasa Indonesia tak berguna. Jawaban guru bahasa tak terasa. Seakan kata yang berbahaya bagi jiwa raga. Muda?. Tanyaku lirih.
Terselimuti tebalnya muda-ku ini, rasanya menyesakkan dada. Lorong-lorong tubuhku rasanya menolak. Sebelum tahu apa itu muda ?. Namun ada celah kecil dari jarum jahit disamping kamus tua. Seolah menjawab. Muda itu tajam dan berbahaya. Aku belum puas dengan jawaban jarum jahit. Kutatap jarum jam.”Muda itu, terus bergerak hingga titik darah penghabisan”. Belum puas, kurogoh saku celana dan kuraih kompas. Kuperhatikan jarumnya lekat-lekat. “Muda itu mudah terpengaruh”. Aku cari lagi beberapa jarum. Namun yang kutemukan hanya potongan kaca seukuran wajahku. Seolah memberitahu. “Muda itu, diriku”
                                                                                       
                           Selepas terbit matahari.


Sabit

1.Sabit

Malam ini kau cantik
Sungguh cantik
Elok rupamu menawan seperti ratu
tak seorangpun boleh menyentuhmu..
Kecuali rinduku yang menyelimutimu.
Di malam ini.

Sabit, masih ingatkah.
mimpi-mimpi yang kita rajut dulu
Yang kita lukis di malam tanpa bintang
Hanya ada aku dan dirimu
Dalam kehangatan kasih
Yang tak bisa mendingin
Oleh malam

Sabit......
Dengar bisikanku
Biarkan malam ini aku pada dekapanmu
Terhangatkan dengan cinta
Karena esok, engkau bukan milikku lagi.

Tapi tolong Sabit
Ikuti aku dari belakang
Jalanku sepi nan panjang
Sendiri....
Sendiri tanpamu lagi .

11 Nov 2012, sebelum senja.

Ketika rambut sudah mulai tumbuh.

31 januari 2013

Senja disore ini berbisik padaku
Ada hal penting yang harus ku ketahui
Tentangnya yang memiliki rasa
Jauh disana
Jauh

Aku jadi ingin bertanya pada senja
Hal pemnting apa
Tangannya melambai, mengajakku mendekat
Kepalanya menoleh ke kanan lalu ke kiri
Sepertinya ini rahasia besar
Aku jadi tak sabar
Sesekali ia menoleh lagi

Namuhn sebelum ia sempurna mengucap kata pertamanya
Malam sudah mengusirnya terlebih dahulu
Berganti jatah
Tentu saja pembicaraan antara aku dan senja terhenti

Dan aku jelas merekam kata pertama yang diucapnya
" dia "

Entri Populer