Muda
by Bilal Ramman
Aku sempat bertanya pada cermin tanpa kaca. Tentang diriku yang masih muda. Namun ia bisu. Akhirnya, kubertanya pada jendela tak bernyawa. Seakan menolak dan berkata “jangan tanya aku”. Aku tak yakin akan bertanya pada nenek renta di seberang jalan sana. “Aku tak pernah muda” itu jawabnya. Lalu kubergumam dalam hati. Muda?.Jawaban kamus tebal Bahasa Indonesia tak berguna. Jawaban guru bahasa tak terasa. Seakan kata yang berbahaya bagi jiwa raga. Muda?. Tanyaku lirih.
Terselimuti tebalnya muda-ku ini, rasanya menyesakkan dada. Lorong-lorong tubuhku rasanya menolak. Sebelum tahu apa itu muda ?. Namun ada celah kecil dari jarum jahit disamping kamus tua. Seolah menjawab. Muda itu tajam dan berbahaya. Aku belum puas dengan jawaban jarum jahit. Kutatap jarum jam.”Muda itu, terus bergerak hingga titik darah penghabisan”. Belum puas, kurogoh saku celana dan kuraih kompas. Kuperhatikan jarumnya lekat-lekat. “Muda itu mudah terpengaruh”. Aku cari lagi beberapa jarum. Namun yang kutemukan hanya potongan kaca seukuran wajahku. Seolah memberitahu. “Muda itu, diriku”
Selepas terbit matahari.